Pages

Blogroll


I made this widget at MyFlashFetish.com.

Kamis, 23 Desember 2010

Tugas 2 bahasa indonesia

Membandingkan gaya pada bahasa

Kamis, 23/12/2010 18:58 WIB

Keruk Pasir Merapi, Alat Berat Diprotes Penambang
Parwito - detikNews

Magelang - Ratusan penambang di Sungai Putih resah dengan ulah operator alat berat yang sedianya digunakan untuk normalisasi sungai setelah banjir lahar dingin. Ternyata, alat berat juga digunakan untuk mengambil pasir di lereng Merapi, Magelang, Jawa Tengah.

Mereka khawatir, material pasir akan cepat habis dan menghilangkan mata pencaharian mereka yang rata-rata merupakan penduduk di sekitar lereng Merapi. Fakta itu terungkap saat sekitar 50 penambang pasir Merapi dari (FRP3M), mengadu ke DPRD Kabupaten Magelang, Kamis (23/12/2010).

Fahrodin, salah seorang penambang mengungkapkan, di sepanjang Sungai Putih saat ini terdapat lima alat berat. "Mereka mengeruk pasir dengan dalih normalisasi sungai, tetapi mengapa pasirnya dimasukkan ke truk dan dijual? Kalau seperti itu namanya menambang," tegas Fahrodin.

Fahrodin menyatakan penambangan menggunakan alat berat sangat merugikan penambang manual. 5 Penambang manual, bisa mengisi bak truk sedang (satu rit) dalam waktu setengah hari. Namun, alat berat bisa mengisi satu rit hanya dalam waktu 10 menit dan mencapai puluhan rit setiap harinya. Padahal, Fahrodin berharap pasir ini bisa menjadi rezeki bagi warga korban Merapi.

Sekjen LSM Gemasika, Ichsani menambahkan ada praktek pungutan liar retribusi penambangan dari oknum yang mengatasnamakan pemerintah desa dan kecamatan. Ichsani menunjukkan selembar karcis sebuah organisasi di kawasan Merapi dengan nominal pungutan antara Rp 100.000-120.000 per truk. Padahal pungutan itu menjadi wewenang Pemkab Magelang.

"Perlu payung hukum dalam penambangan agar penambang tidak menjadi obyek pemerasan aparat," tegas Ichsani.

Kasubag Peraturan Perundang-Undangan Bagian Hukum Pemkab Magelang, Nur Pudjining Diahati menegaskan, saat ini Peraturan Bupati (Perbup) tentang penambangan ini masih dalam pembahasan. Sementara Wakil Ketua DPRD Magelang, M Achadi meminta Perbup tersebut dikomunikasikan terlebih dahulu.

"Tujuannya, agar hasilnya nanti tidak menimbulkan masalah baru," tegas Achadi.

Merapi Tetap Siaga


Dalam kesempatan terpisah, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, menyatakan erupsi atau letusan Gunung Merapi masih bisa terjadi. Maka, status siaga sampai saat ini masih dipertahankan dan belum diturunkan menjadi waspada.

"Selain letusan vertikal kemungkinan masih bisa terjadi lagi letusan, karena masih adanya aktifitas pergerakan magma di dalam gunung. Kegempaan vulkanik memang sudah tidak terjadi, tapi gempa multifase masih banyak terjadi. Karena itu terkait dengan kondisi gunung ini tetap harus hati-hati," tegas Surono dalam acara diskusi di Hotel Manohara, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Surono mengaku pihak PVMBG memang selalu serba salah terkait penetapan satus kegunungapian Merapi. "Masih menetapkan status siaga kami dikritik, tapi kalau nanti menurunkan status dan terjadi apa-apa, kami akan disalahkan. Tapi kami memilih, tetap memberlakukan siaga meskipun ada yang mengkritik," tegas Surono.


UGM Hasilkan 15 Penelitian tentang Merapi

Cuk Sahana - Okezone
Rabu, 22 Desember 2010 - 17:57 wib

Image: corbis.com

YOGYAKARTA- Universitas Gadjah Mada (UGM) mendokumentasikan aktivitas dan dampak erupsi Gunung Merapi ke dalam 15 penelitian terkait bencana Merapi.

Ke-15 penelitian yang telah dilakukan Pemkab di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jateng, Badan Penyelidikan dan Penelitian Teknologi Kegunungapian (BPPTK), dan Peneliti UGM tersebut dipresentasikan dalam Lokakarya Tanggap Bencana Merapi, di Grand Palace Hotel Yogyakarta, 21-22 Desember 2010.

Penelitian tersebut di antaranya mengkaji sebaran awan panas gunung api Merapi pasca erupsi, zonasi bahaya merapi melalui pendekatan geomorfologi tanah, kajian kerusakan infrastruktur transportasi pasca erupsi, kajian struktur sosial masyarakat pasca letusan, daya dukung lahan pasca letusan untuk kegiatan agro dan perikanan, kajian tata ruang wilayah berbasis analisis risiko gunung api, dan strategi pembangkitan ekonomi masyarakat pasca bencana merapi.

Ada juga penelitian yang mengajukan strategi penanggulangan penyakit terkait dengan kerusakan lingkungan akibat letusan, pemodelan dinamika gunung api Merapi pascaletusan 2010, evaluasi kegiatan tanggap darurat, perencanaan dan pemodelan evakuasi krisis gunung api Merapi, strategi penanganan ternak pada saat tanggap darurat, penanganan trauma bencana, identifikasi job need assesment masyarakat pengungsi terkena dampak erupsi merapi serta studi kerusakan dusun dampak erupsi merapi sebagai dasar perencanaan perancangan hunian antara dan strategi pelestarian.

Rektor UGM Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., menegaskan, aktivitas gunung merapi dan dampak yang ditimbulkannya merupakan 'laboratorium alam' yang bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat dunia. Karenanya, gagasan dan pengalaman dalam membantu menangani dampak bencana merapi bisa dirangkum sebagai modal dasar untuk membuat perencanaan dan implementasi program yang baik di masa mendatang. “Dari pengalaman dan gagasan itu, nantinya kita bisa melakukan penanganan secara cepat seperti apa bila sewaktu-waktu terjadi letusan,” kata Sudjarwadi.

Dia menyatakan, UGM merupakan salah satu partisipan yang ikut membantu menangani bencana merapi. Kendati demikian, UGM tetap mengutamakan kecerdasan kolektif sebagai salah satu fondasi untuk membagun pemahaman bersama. “Tiap orang punya gagasan dan pengalaman masing-masing, apabila semua itu dikomunikasikan dan dikombinasikan maka akan menghasilkan sebuah pengetahuan,” ujarnya.

Menurut Sudjarwadi, erupsi Merapi November lalu setidaknya telah meningkatkan semangat warga dan lembaga terkait yang berada di Yogyakarta untuk menciptakan inspirasi tentang pengalaman bersama menangani dampak bencana yang ditimbulkan. “Pengalaman ini bisa ditularkan bagi masyarakat lain di dunia,” paparnya.

Ketua Bidang I LPPM UGM Prof. Dr. Harno Dwi Pranowo menyampaikan, dalam lokakarya dipaparkan berbagai hasil pengalaman masyarakat dan lembaga pemerintah yang ikut terjun langsung membantu masyarakat korban erupsi Merapi. ”Dari hasil lokakarya ini, perlu dipikirkan model penanganan tanggap darurat untuk penanganan bencana merapi yang lebih baik,” katanya. (rfa)(rhs)

Dari kedua contoh artikel di atas pada penulisan gaya bahasa yang digunakan keduanya cukup dapat dimengerti tetapi pada untuk artikel dari situs okezone.com saya menemukan banyak terdapat kata- kata baku dan tidak baku kata tersebut adalah “lokakarya yang artinya adalah suatu acara di mana beberapa orang berkumpul untuk memecahkan masalah tertentu dan mencari solusinya.” yang orang awam pun belum tentu bisa memahaminya yang digunakan. Sehingga untuk orang awam bahasa itu sulit untuk dimengerti dan dipahami. Oleh sebab itu, dari salah satu contoh penggunaan kata baku dan tak baku. Menurut saya dalam penulisan suatu berita dalam media cetak sebaiknya menggunakan bahasa yang sederhana yang sudah sering kita pahami dan biasa kita dengar yang dapat dengan mudah dipahami dan dimengerti oleh semua orang.


Sumber :

- detiknews.com
-okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar